Kisah Mistik di Area Monumen Pancasila Sakti

Kisah Mistik di Area Monumen Pancasila Sakti - Lubang Buaya adalah nama sebuah desa di daerah Pondok Gede-Jakarta Timur. Tempatnya yang terpencil dan jauh dari pusat keramaian, membuat desa ini terkesan angker.Kini daerah ini jauh berbeda dibanding tahun 1965 dulu, dimana beberapa tempat di kawasan ini menjadi saksi bisu kekejaman PKI.

Tempat itu sekarang telah menjadi pemukiman padat penduduk dan dijadikan tempat obyek wisata setelah dibugar oleh pemerintah. Namun di balik semua itu, banyak rumor yang beredar dimana dikatakan sering terjadi peristiwa-peristiwa aneh di sekelilingnya.

Menurut sesepuh warga desa Lubang Buaya, suasana mistik yang ada hanya perasaan pengunjung saja karena sudah terlanjur takut terlebih dulu dengan tempat ini. 


Namun, diakui juga pernah terjadi ada beberapa orang siswi yang sedang study tour mengalami kesurupan ketika sedang meninjau sumur maut. Ia mendadak tak sadarkan diri ketika melihat-lihat rumah penyiksaan.

Menurut penjaga keamanan bangunan bersejarah itu, ketika ia mendapat giliran untuk piket berjaga malam, pernah mengalami beberapa kejadian aneh. Ketika berkeliling, tiba-tiba di salah satu pohon sengon terdengar suara perempuan cekikikan kencang sekali. Ia langsung terbirit-birit sambil berdoa.

Ketika piket, ia juga pernah selintas melihat sosok pria tinggi besar pakai jubah masuk ke ruang Pasaban, namun setelah diperhatikan tidak ada siapa-siapa.

Suara derap kaki tentara berbaris dari arah dapur umum, padahal tidak ada siapa-siapa.

Rekan piket penjaga juga pernah melihat dengan jelas ada wanita berambut panjang, duduk di atas pohon Newang, dengan muka yang tak tampak tertutup oleh rambutnya.

Kisah-kisah mistik seperti di atas, membuat kita percaya gak percaya. Percaya, karena meski desa lubang buaya menjadi pemukiman padat penduduk, bukankah tempat yang dijadikan obyek wisata itu sejak terjadinya peristiwa Lubang Buaya hingga kini tetap menjadi ruang hijau terbuka? Jadi "makhluk-makhluk lain" seperti tak terusik di tempat itu.

0 comments:

Poskan Komentar